4 October 2019

Cerpen, aku yang penuh dosa

Judul : Aku yang Penuh Dosa

Kategori Cerpen

Karya 

Oleh: Istikomah Mu'asyaroh

Langkahku menghentak pelan. Kaki menyusuri satu demi satu anak tangga. Getar hati kian meronta amat kuat. Entah sudah berapa lama, tak mengijak bangunan megah pengobat pilu ini. Menatap sekitar, kedamaian begitu menyeruak menembus jiwa kala kutatap tempat persujudan.

Diri bersimpuh memikul gundukan dosa yang telah memberatkan pundak. Matahari mulai merekah mengiringi syahdunya waktu dhuha. Tiada seorang pun yang berada di ruang ini. Hanya ada aku dengan Tuhan.


Cerpen, aku yang penuh dosa


Rengkuhan cinta benar-benar terasa saat kepala menyentuh lantai. Kasih Illahi Rabbi menghilangkan beban pikir dan penatnya hati. Rasanya ingin berlama-lama mengadu kepada Allah. Diri lemah ini, tak mampu memikul fananya dunia yang kian hari kian melenakan.

Aku menengadah. Setiap untaian bait doa terucap tulus dari lisan. Aku si pendosa. Allah ... terimalah taubatan hamba hina ini. Tak terasa air mata mengucur membasahi celana jeans yang aku kenakan. Bulir itu tak tertahan, seakan bongkahan es yang mencair terkena paparan mentari.

Di hadapan Tuhan, aku lemah. Daya seolah hilang bersama jejak kelam masa lalu. Kumintakan pada Allah, ampuni, Ya Rabb ... ampuni .... Di sini, rumah Allah yang menjadi saksi betapa tulus taubatan diri.

***
Hingar bingar dunia, mengajakku menjadi sosok lelaki liar tanpa mengenal agama. Orang tua dengan kemampuan finansial yang melebihi cukup membuatku mampu melakukan apa saja. Semua teman sebaya seolah mendewakan. Mereka biasa memanggil dengan sebutan "bos".

Tengah malam adalah waktu untuk istirahat bagi kebanyakan orang, tapi tidak denganku. Aku lebih memilih menjelajahi jalanan malam yang penuh dengan tantangan. Balap adalah salah satu hobi favoritku.

Aku yang penuh dosa cerpen

"Bos, nanti malam lawan Andre," kata Doni--Temanku.

"Berani-beraninya dia mau melawanku!" Aku dikenal sebagai raja jalanan. Beberapa lawan sudah berhasil aku taklukkan. Ada beberapa motor sport hasil taruhan yang berhasil aku dapatkan. Kemenangan ini yang membuatku selalu berbangga diri. Semua orang hormat. Tidak ada yang mampu mengalahkan.

"Dia ada motor baru, Bos. Motor itu yang jadi taruhan."

"Hahaha," Tawaku pecah. Sudah dua motor Andre berhasil menjadi milikku. Namun, ia tidak pernah kapok. Kali ini aku masih yakin, Andre akan kalah, dan motor barunya, sudah pasti menjadi milikku kembali. Bodoh! Umpatku.

Malam telah tiba. Aku sudah berada di perlintasan, sembari menunggu Andre datang. Teman-teman setia menemani. Aku tidak menganggap mereka teman, hanya sebatas anak buah. Dengan uang, semua orang pasti datang menghampiri, termasuk teman yang bisa leluasa aku suruh. Wanita juga tidak perlu susah-susah aku taklukkan, mereka akan datang menghampiri dengan sendirinya. Bodoh memang, bukan cinta yang mereka cari. Hanya materi dan ketenaran semata.

Mangsaku telah datang. Andre mengendarai motor sport hitam berkilau dengan beringasnya.

"Lu bakal kalah malam ini!" Sorot dendam dari mata Andre terpancar jelas. Mungkin ia masih tidak terima dengan kekalahannya dulu.

"Cuihhhh!" Aku meludah di atas jalanan aspal. "Lihat saja!"

Pertarungan dimulai. Wanita seksi berpakaian mini sudah berada di garis start. "One ... two ... tri ... goo!" Motorku melaju cepat seiring kain di tangan wanita yang menghambur ke udara.

Kulihat Andre dengan semangat memacu motor, aku tidak ingin kalah dengannya. Gas tertancap sekuat mungkin. Tubuhku serasa dihambur-hamburkan ke langit. Nyawa? Tidak peduli! yang terpenting aku harus menjadi juara.

Jalanan malam menjadi saksiku mencari jati diri. Benar, seseorang yang sedang menuju dewasa sepertiku memang sedang membutuhkan pengakuan dari sekitar. Diakui bahwa dirinya hebat. Itu yang aku inginkan.

Garis finish sudah mulai terlihat. Lagi-lagi aku jauh berada di depan. Iya, aku mendapat gelar juara kembali. Suara sorak mengiringi kemenangan. Inilah aku, Beno. Raja jalanan yang tak akan pernah tertandingi.

Andre datang dengan muka lusuh. Kekalahan harus menimpanya lagi. Salah siapa terus berusaha menjatuhkanku. Mimpi! Itu semua tidak akan pernah terjadi.

"Luzer!" Jempol terbalik aku berikan kepada Andre. Dengan tawa puas aku mengambil kunci motor dari genggaman. Motor Andre kini menjadi milikku.

***
"Ben!" seru Papah yang sedang duduk dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kirinya. Asap mengepul, bekas hembusan. "Dari mana?"

"Main," jawabku singkat lalu berlalu menuju kamar. Aku memang tidak telalu dekat dengan orang tua. Papah dan Mamah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, hingga tidak tahu jika anak semata wayangnya telah salah jalan. Terlebih Mamah, ia lebih sibuk dengan karir dan teman-teman sosialita.

Mamah dan Papah jarang menayakan kabar. Apalagi berdiskusi dan bercanda bersama selayaknya keluarga. Menurut mereka, kewajiban telah tertunaikan, apabila telah memberiku uang. Soal materi memang kelewat lebih untukku, fasilitas telah tersedia.

Menuju kampus dengan motor dan mobil berganti membuat para wanita mendekat. Mereka seolah bangga memiliki pacar tajir sepertiku. Padahal, sama sekali bukan karena cinta aku memacari mereka. Wanita zaman sekarang memang bodoh! Bisa-bisanya menyerahkan mahkota berharganya hanya karena uang.

"Kamu jahat, Ben!" Sesil menampar pipiku hingga membekaskan lebam.

"Lu yang bodoh!" Aku tertawa tanpa rasa iba dengan wanita yang tengah tersendu itu.

"Aku kira, kamu benar mencintaiku. Ternyata, aku hanya dipermainkan!"

"Lu sendiri yang mendekatiku. Padahal lu udah tau kalau wanitaku banyak! Jadi, ini salah siapa?"

"Lu jahat!" Di bawah remangnya lampu cafe, Sesil memukul-mukul dadaku, membuat amarah kian melonjak.

"Lu mau apa? Uang?" Aku merogoh dompet yang tersimpan di saku. Lembaran merah aku keluarkan dari tempatnya. Uang itu menghambur. Aku meninggalkan wanita itu tanpa peduli dengan isaknya.

Tidak ada sejarah, aku mengalami patah hati. Putus satu akan tumbuh sejuta. Masih banyak wanita-wanita yang ingin menjadi kekasihku. Bermodal paras tampan, postur badan yang pas, juga kekayaan yang melimpah, maka dengan gampangnya aku menggait hati wanita.

Menjaga perasaan wanita? Ah, aku tidak mengerti caranya. Wanita yang telah melahirkanku saja seolah tidak bisa menjaga perasaanku.

Widya. Wanita cantik dan berprestasi di kampus pun bertekuk lutut. Mana mungkin aku tidak berbangga diri dengan dunia yang seolah berpihak padaku.

***
Pergaulan telah menjerumuskanku ke jurang penuh dosa. Minuman keras hampir kuteguk setiap hari. Salah satu cara merayakan kemenangan balap adalah dengan pesta miras. Kami tidak peduli dengan hidup dan mati, yang terpenting hasrat kesenangan terpenuhi.

"Bos, ke mana kita?" tanya Doni setelah aku berhasil meraih podium pada balap liar melawan Andre.

"Markas!" Di tempat ini kami biasa melakukan aksi. Sebuah ruko yang aku sewa menjadi tempat berkumpul genk motor.

Kami menuju markas dengan gaya tengil anak motor. Libas jalan sesuka hati tanpa memperdulikan pengendara lain. Bagi kami, ini adalah jalanan kami. Tidak ada seorang pun yang mampu mengusik.

Karena kelakuan nakal, keluar masuk kantor polisi sudah biasa. Diberi pembinaan, bebas, lalu kami melakukan aksi kembali. Ada kebanggaan tersendiri menjadi anak nakal.

Doni membawa beberapa botol minuman di tangannya. Pesta segera dimulai. Kami duduk melingkar. Semua menyuruhku untuk memulai. Aku adalah orang paling terhormat di ruang ini.

Naas. Nasib sedang tidak berpihak. Minuman yang kami minum ternyata adalah oplosan dengan bahan berbahaya. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi kala itu. Hanya tubuhku terasa begitu lemah, jantungku seperti terbakar api membara. Kejang, dan entah, aku sudah tidak sadarkan diri.

Aku hanya mendengar dari Mamah, bahwa aku sudah koma selama tujuh hari. Selama itu pula, aku mendapat pengalaman spiritual luar biasa. Tentang betapa dasyatnya siska neraka. Aku sudah dihadapkan pada kematian, hingga akhirnya Allah memberiku kesempatan hidup lagi.

"Kamu sudah sadar, Nak?" Mamah berada di samping ranjangku. Ia mengusap kepala dengan lembut. Kali ini kurasakan kasih seorang ibu begitu dalam kepada anaknya. Begitu pun dengan Papah. Ia menatapku penuh perasaan cemas.

Lidah masih terasa kelu untuk bersuara. Namun, hati dihinggapi bahagia. Berulang kali aku ucapkan syukur karena Allah masih memberi kesempatan hidup. Dua orang di sisi adalah kekuatan.

Istigfar terus terlontar dalam hati. Saat tubuhku mulai bertenaga, aku katakan pada Mamah, "Mah, mau sholat!"

Mamah dan Papah menangis. Mereka pasti menyesali kelakuanku yang ternyata menyimpang tanpa sepengetahuan mereka.


"Ben, maafin Mamah sama Papah," kata Papah dengan air mata yang sesekali menetes. Baru kali ini aku melihat lelaki cuek itu peduli.

"Maafin Mamah juga." Ibu memegang tanganku erat, seolah ia begitu takut kehilangan.

Mamah dan Papah mengambil wudhu, sementara aku tayamun karena kondisi yang belum memungkinkan. Mereka menggelar sajadah. Kami melakukan shalat berjamaah. Aku yang terkulai lemah di atas tempat pembaringan bercucuran air mata mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Ini adalah jamaah pertamaku beserta orang tua. Tentang ibadah, Mamah dan Papah tidak pernah mengurusi. Aku hanya belajar agama dulu, di taman pendidikan Al-qur'an.

Sejak saat itu, aku telah bertekad akan menjadi sosok yang lebih baik. Melupakan masa kelam, lalu merajut masa depan dalam dekapan jalan Tuhan. Bukankah Allah Maha Pemaaf? Aku yakin, Ia akan menerima taubatku.

Labels: