Skip to main content

Cerpen, Mencari Cinta Halal

Mencari Cinta Halal

Mencari cinta halal


"Zak, kuper banget, sih, kamu?"

"Zak, main dululah. Ngapain buru-buru pulang?"

"Nurut banget kamu jadi murid!"

Kata-kata itu sudah biasa aku dengar. Cuek saja. Toh, memang begini adanya. Apa salahnya berbeda dengan yang lain? Bukankah berprestasi itu, tidak harus seperti mereka? Bermain, menghabiskan waktu bersama, terkadang lupa waktu. Apakah salah jika hanya berangkat-pergi? Toh, tujuan aku bersekolah hanya untuk belajar.

Aku tidak pernah menghiraukan ucapan mereka. Selama yakin, tidak bertentangan dengan agama. Maka, kulakukan apapun sesuai keinginan. Berkutat dengan banyak buku sudah menjadi makanan sehari-hari.

***
Deretan buku tertata rapi. Aku duduk diantaranya. Memegangi buku kumpulan puisi karya Sapardi Djoko Damono. Ada satu puisi yang membuat tertegun lama. Sudah tiga kali berulang membacanya. Puisi yang sederhana. Tapi, penuh dengan makna.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana."

Begitulah bait puisi yang berjudul "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono. Aku memang menyukai sastra sejak lama. Sejak sekolah dasar sudah biasa bermain dengan aksara. Masih ingat, puisi pertamaku berjudul "Ibu Cintaku." Aku persembahkan puisi itu untuk ibu saat tanggal 22 Desember. Ibu sampai tergugu saat puisi mengalun. Waktu itu, aku masih kelas tiga sekolah dasar.

Tak terasa sudah empat kali aku membaca puisi. Tapi, masih saja menikmati setiap kata yang menjadikan puisi ini, terdengar indah.

Bicara tentang cinta, siapa yang tidak pernah merasakan jatuh cinta. Apalagi masa-masa SMA seperti ini. Cinta pasti mudah menghampiri. Karena, setiap hari bertemu dengan lawan jenis.

Ada satu wanita yang menarik perhatian. Adik kelas berwajah ayu, Syifa. Aku tidak mengerti apakah ini rasa cinta atau bukan. Namun, saat berhadapan dengannya selalu ada degub kencang. Ia pun sama. Pipi terlihat tersipu. Tak jarang aku salah tingkah. Sehingga memicu bulian dari sahabatku, Anton.

"Zaki!" Tiga gadis membuyarkan lamunanku.

Lagi-lagi mereka. Tiga wanita centil yang selalu berusaha menggoda. Entah, mengapa tidak pernah lelah mencari perhatian, walau sikapku sudah sedingin mungkin.

"Nih, aku bawain minum. Kamu pasti haus." Risa menyodorkan satu botol air mineral.

Demi menghargai, kuterima pemberiannya. Padahal, aku sudah biasa membawa air putih di ransel. Jadi, tidak terlalu butuh air mineral ini.

"Terima kasih." Aku menatap buku kembali.

Ketiganya tak kunjung pergi, hingga merasa semakin risih. Saat melakukan kegiatan membaca seperti ini, hanya membutuhkan ketenangan. Karena itu, aku beranjak dari kursi.

"Lho, Zaki mau kemana?"

"Maaf, mau balik ke kelas."

Mereka terlihat berbisik. Entah, apa yang sedang diperbincangkan. Aku tidak peduli. Untuk saat ini, yang terpenting adalah harus lepas dari jeratan.

Aku menuju kelas. Terlihat Anton sedang duduk di bangku.

"Zak, kok kamu udah balik ke kelas. Katanya mau ke perpus?

"Males aku."

"Oh, pasti geng Ratu Capung itu, ya?" Anton terbahak. Tawanya terlihat mengejek.

"Zak, Risa itu, ngarep banget jadi pacarmu."

"Kenapa harus aku?"

"Wanita mana yang tidak suka dengan lelaki kaya kamu. Wajah tampan, hidung bangir. Udah kaya orang Arab begitu." Anton terkekeh.

Risa mungkin cantik. Sayang ia sama sekali tidak menarik. Bahkan, sikapnya sering membuat ilfil. Bukankah wanita harus menjaga izzah dan iffah? Risa justru tidak punya malu untuk mendekat. Lagi pula aku tak ingin pacaran. Tidak ada dalam kamusku berpacaran. Adanya hanya menikah. Seperti saudara-saudaraku, mereka ta'aruf lalu menikah. Tidak perlu drama pacaran. Aku memang dibesarkan dari keluarga yang paham agama.

Berbicara tentang izzah dan iffah wanita. Aku jadi teringat dengan Syifa. Sikap dan penampilannya sungguh menunjukkan jika ia wanita sholehah. Disaat teman-teman memakai jilbab dengan ujung jilbab yang disampirkan di bahu kanan kiri, Syifa justru dengan jilbab panjang. Sikapnya sungguh kalem, sudah seperti putri keraton.

Terkadang aku curi-curi pandang saat berpapasan denganya. Namun, ketika itu juga aku berucap istighfar dalam hati. Syifa memang indah, tapi bukan hakku.

Disaat teman-teman yang lain dengan bangga memamerkan hubungan pacaran. Aku sama sekali tidak tertarik untuk pacaran. Mungkin mindset dari keluarga sudah tertanam kuat di hati. Aku justru tertarik untuk menikah. Suatu rasa yang aneh untuk remaja seumurku. Terkesan aneh, tapi, memang begitu kenyataanya.

Syifa, dia adalah wanita yang selalu aku impikan untuk mendampingi hidupku.

***
"Zak, besok ada rapat rohis, kan?" tanya Anton padaku.

"Iya, Ton."

"Syifa ikut, loh."

"Hah ... masa, sih?"

"Iya. Dia anggota baru."

Aku kaget mendengar penuturan Anton. Itu artinya, aku akan berhadapan dengan Syifa. Ini bukan hal yang menyenangkan bagiku. Karena melihatnya, aku harus banyak-banyak membaca istighfar.

Rasanya tidak ingin mengikuti acara tersebut. Sayang, itu tidak mungkin. Karena tidak ada alasan yang masuk akal. Aku hanya banyak-banyak berdoa, agar sikapku terlihat biasa saat berhadapan dengan Syifa.

Hari yang mendebarkan. Kami berada dalam satu ruang yang sama. Oke, aku mencoba untuk tidak memandangnya.

Dengan sedikit gugup, aku menyampaikan laporan bulanan dalam forum itu. Aku menghela napas lega, saat tugas sudah selesai.

Kini, Syifa menyampaikan usul. Tidak terkira, dia yang terlihat pemalu, ternyata penyampaiannya sangat mantap. Aku dibuat ternganga oleh setiap kata yang keluar dari lisan manis itu.

Pertemuan kali ini membuatku semakin ingin memiliki. Kami pasti akan bersama kelak nanti. Dengan cara yang Allah ridhoi tentunya.

***
Kenangan masa putih abu-abu masih jelas terngiang dalam ingatan. Kini, kami sudah menyandang status alumni dari instansi ini. Tak pernah terlupakan kisah-kisah indah saat sekolah.

Selesai sekolah, aku memutuskan untuk bekerja. Selain tidak ada biaya untuk melanjutkan kuliah, aku juga sangat ingin membantu ekonomi keluarga.

Bengkel paman, menjadi ladang rezeki. Berbekal ilmu dari sekolah menengah kejuruan yang didapatkan, aku dipercaya oleh paman untuk memegang satu cabang bengkelnya.

Sejak lulus sekolah satu tahun lalu. Hatiku belum berubah, masih saja tertaut dengan wanita cantik bernama Asyifa. Apa kabar gadis itu. Tahun ini dia akan lulus. Mungkinkah ia masih mengingatku.
Akhir-akhir ini hatiku sering tidak tenang. Bayangan Syifa terus menghantui fikiran. Mungkinkah rasa ini harus segera dihalalkan? Lalu mengikuti jejak saudara dengan menikah muda.

Pulang dari bengkel aku duduk di samping wanita berjilbab merah jambu.

"Umi, Mas mau bilang sesuatu."

"Bilang aja, Mas."

"Emmmm ...." Rasanya ragu untuk mengungkapkan hasratku.

"Kenapa, Mas?"

"Sepertinya Mas jatuh cinta."

Umi tertawa. "Jatuh cinta sama siapa?"

"Teman sekolahku dulu, Um."

"Terus, Mas mau nikah?"

"Hehehe. Baiknya gimana?"

"Nikah lebih baik, sih. Tapi, kamu harus pikirkan konsekuensi dari pilihanmu, ya!"

"Iya, Umi."

"Udah tau rumahnya?"

"Belum, Um."

"Cari tau dulu."

Dukungan dari umi membuatku semakin mantap untuk menjadikan Syifa sebagai pendampingku.

***
"Assalamualaikum ...."

"Waalaikumsallam." Wanita berjilbab biru muda keluar dari balik pintu. Parasnya masih tetap ayu seperti dulu.

Beberapa saat aku tertegun. "Bapak, ada?"

"Ada. Sebentar, aku panggilkan." Dari raut wajahnya, Syifa nampak kebingungan.

Lelaki bersarung mempersilahkan masuk. Detak jantung bertambah kencang. Dengan terbata aku ungkapan maksud kedatangan. "Pak, saya Zaki. Teman sekolah Syifa dulu. Maksud kedatangan saya kemari, ingin melamar anak Bapak."

Lelaki berkumis menatapku tajam, dari sorot mata, sepertinya ia akan menolakku. "Kerja apa kamu?" Benar saja, pertanyaan kerja apa, memang selalu menjadi pertanyaan dasar bagi orang tua saat putrinya akan dipinang.

"Emmm ... kerja di Bengkel, Pak!"

"Kalian pacaran?"

"Engga, Pak." Aneh ... raut garangnya justru berubah menjadi senyum.

"Bagus! Bapak suka yang begini. Bapak setuju." Deg ... aku tertegun mendengar perkataan ayah Syifa. Dengan mudahnya berkata merestui, tanpa bertanya lebih detail.

Lelaki itu, memanggil putri cantiknya. "Kamu mau, Nak?"

Pipinya tersipu. Anggukan ia hadiahkan untukku. Pada akhirnya aku akan bersama wanita yang sejak dulu aku kagumi. Cara Allah memang luar biasa. Menahan sekejap, lalu kebahagiaan datang berlipat. Sungguh, aku bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan.

Karya : Istikomah Mu'asyaroh
Comment Policy: Tolong silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar