Skip to main content

Jangan Salah! Ibu Rumah Tangga Adalah Pekerjaan Mulia

Judul : Jangan Salah! Ibu Rumah Tangga Adalah Pekerjaan Mulia
Kategori : Cerpen
Karya, Istikomah Mu'asyaroh

Jangan Salah! Ibu Rumah Tangga Adalah Pekerjaan Mulia


"Bro, kemarin pas pertemuan keluarga, gue malu banget," kata Luki yang duduk tepat di depanku.

"Kenapa emang?" Pandanganku masih tertuju pada layar laptop.

"Kemarin kumpul keluarga gitu, gue malu, secara istri gue cuma ibu rumah tangga. Sementara, keluarga gue, istrinya kebanyakan bekerja."

"Lu kira istrimu di rumah ga kerja?" Aku mulai menatap ke arahnya.

"Ya, beda. Mereka wanita karir. Istri gue sehari-hari di rumah."

"Apa salahnya full ibu rumah tangga?"

"Kesannya kaya kolot. Bisanya cuma di dapur, di sumur dan di kasur."

"Eh, lu kira jadi IRT ga berat?"

"Ya, mungkin berat."

"Itulah, jangan memandang remeh ibu rumah tangga. Mau full IRT, mau wanita karir itu, sama aja."

"Persamaannya apa?"

"Sama-sama mengabdi untuk kita."

Luki mulai mengangguk-angguk.

"Wanita karir, mau bantu suaminya cari uang, hebat. Itu Salah satu bentuk mengabdi."

"Lah, kalau IRT?"

"Sama halnya dengan ibu rumah tangga. Mereka full di rumah, tujuannya juga untuk mengabdi kepada kita. Bersih-bersih rumah biar rumah kita nyaman ditinggali. Melayani kita dengan sepenuh hati."

"Lu bangga sama istri lu?"

"Jelas, bangga. Dia mau nemenin gue. Padahal waktu itu, belum tau bakal bahagia atau engga."

"Kalau ditanya orang-orang, 'istri lu kerja apa?' lu jawab apa?"

"Ya, gue jawab, istri gue ibu rumah tangga."

"Ga malu?"

"Kenapa malu? Ibu rumah tangga, pekerjaan mulia. Kita ini suaminya. Harus bangga sama istri kita. Kalau bukan kita yang banggain mereka, siapa lagi. Apa nunggu pebinor?"

Luki terbahak.

"Sekarang, nih, Bro. Kalau ada yang tanya lagi. Jawab dengan bangga, istri gue ibu rumah tangga. Ga usah pakai kata, cuma."

"Ashiap," jawab Luki sedikit terkikik.

"Mungkin di luaran sana, ada juga suami yang menginginkan istrinya berhenti bekerja, biar full di rumah. Urip kui wang sinawang (hidup itu saling melihat)."

"Eh, iya, sih."

"Tak jarang juga, wanita yang melepas karirnya demi keluarga."

"Iya, itu, bininya Roki."

"Tuh, lu paham. Intinya tadi, mau wanita karir atau ibu rumah tangga, mereka sama-sama mengabdi untuk suami."

"Hehehe." Luki cengengesan.

"Udah, sakarang WA istri lu, 'pulang kerja mau dibawain apa, Sayang?' gitu."

"Ashiap, Bosque."
Comment Policy: Tolong silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar