10 October 2019

Pekerjaan Rumah Tangga Adalah Tanggung Jawab Suami. Istri Rela Melakukan demi meraih ridhonya.

Pekerjaan Rumah Tangga Adalah Tanggung Jawab Suami. Istri Rela Melakukan demi meraih ridhonya.

"Bro, kemarin gue lewat rumahmu. Lu lagi nyapu, ya?"

"Iya. Kenapa emang?"

"Hahaha. Gagah gitu. Kok, takut bini?" Luki-rekan kerjaku, terbahak.

"Apa salahnya bantuin istri?"

"Ya ampun, Bro. Suami istri itu, udah punya tugas masing-masing. Kita udah capek kerja di kantor. Di rumah, ya, istirahat."

"Gini, deh. Gue tanya, tugas suami apa?"

"Ya, kasih nafkah buat keluarga."

"Lu udah ngasih nafkah ke istri, belum?"

"Lah, tiap hari gue kerja, kalau ga buat istri buat siapa?"

"Yakin nafkah istrimu terpenuhi?"

"Iyalah. Gajian juga gue kasih ke istri."

"Lu ngasihnya uang, kan?"

"Ya, uang, biar dia yang belanjain."

"Oke. Kita bahas nafkah lahir, ya. Nafkah lahir itu berupa apa, Bro?"

"Semua kebutuhannya, dong."

"Yaudah, kita bahas kebutuhan primernya aja, ya. Papan, sandang, pangan. Lu udah kasih semua itu buat istrimu?"

"Pake ditanya. Kan, lu liat, kehidupan kami sejahtera."

"Oke. Kita bahas satu-satu."

Luki mengangguk.

"Pertama, papan. Gue ngerti lu udah kasih rumah buat istri lu. Tapi, lu mesti tau, bahwa tempat tinggal itu harus layak."

"Duh, Bro. Kurang layak apa? Rumah gue udah tingkat dua begitu."

"Layak itu, bukan soal mewah atau tidak. Tapi, nyaman atau tidak. Sekarang gini, semewah apapun rumah lu, kalau kotor, nyaman ga?"

"Ya engga, pasti!"

"Sekarang siapa yang beresin, biar rumah lu tetep nyaman?"

"Istri gue lah."

"Itu artinya, nafkah papan untuknya belum sepenuhnya lu penuhi. Kalau mau memenuhi, lu harus beresin rumah tiap hari. Nyapu, ngepel, lap-lap dan pekerjaan rumah lainnya. Lu sanggup?"

Luki menggeleng.

"Sekarang yang kedua, sandang. Sandangnya sudah lu penuhi, belum?"

"Dengerin nih, Bro. Istri gue hampir tiap minggu beli baju baru. Gue ga ngelarang, tuh. Kurang baik apa coba?"

"Oke. Istri lu mungkin sering beli baju baru. Tapi, apa baju yang habis dia pake, engga kotor?"

"Jelas kotorlah."

"Siapa yang nyuci?"

"Dia sendiri, masa gue!"

"Itu dia, Bro. Berarti lu belum sepenuhnya memenuhi nafkah sandangnya. Wong baju kotornya masih dia sendiri yang nyuci. Udah gitu, bajumu malah sekalian dicuciin."

"Hehehe," Luki menanggapi dengan senyuman.

"Yang ketiga, nafkah pangan."

"Ah, istri gue ga pernah kelaperan. Uang udah dikasih, tinggal belanja, masak, beres."

"Itulah, Bro. Yang masak masih istri lu, kan? Pangan itu, sudah dalam bentuk makanan. Istri lu tinggal makan, ga perlu capek-capek masak. Coba, deh, lu yang masak, atau mungkin lu kuat jajanin tiap hari?"

Luki masih terdiam.

"Itu baru kebutuhan primernya, belum kebutuhan sekunder, tersier. Belum lagi nafkah batinnya. Kita tidak pernah tau gimana perasaan istri sesungguhnya. Terlihat bahagia, bisa saja menderita. Wanita itu pandai menyimpan luka."
Pekerjaan Rumah Tangga Adalah Tanggung Jawab Suami. Istri Rela Melakukan demi meraih ridhonya.


"Kita aja belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan istri. Maka, ga ada salahnya, kalau sedikit membantu pekerjaannya. Membantu istri tidak akan menurunkan harga diri kita, kok. Gue bisa bilang gini, karena gue pernah ditinggal istri. Dari situlah, gue ngerti kalau pekerjaan mereka juga berat. Istri itu jantung rumah. Kalau istri bahagia, seisi rumah serasa surga."

"Berat, Bro. Tapi, lelaki memang begitu, ada beban di pundaknya. Semua istri hebat, ia melakukan semua pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban suami. Alasannya apa? Semata-mata cuma ingin meraih ridho kita. Ketika ia resmi menikah, maka surga ada pada kita, Bro. Surga itulah yang ingin diraihnya."

"Eh, udah, Bro. Gue mau lanjut kerja." Luki mengeloyor pergi.

Ah, sahabatku. Andai kamu tahu. Istriku rela meninggalkan keluarganya, hanya untuk menemaniku. Mencurahkan hidup untuk mengabdi kepadaku. Maka, salahkah aku, jika berusaha memuliakan. Walau hanya sebatas membantunya melakukan pekerjaan rumah?

Anganku tiba-tiba tertuju pada wanita cantik di rumah sana. "Dek, ketika aku memilihmu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk sepenuh jiwa menjagamu."

"Dek, kita saling melengkapi, ya!"

Karya, Istikomah Mu'asyaroh

Labels: