6 October 2019

Sehari ditinggal Istri, Suami Kewalahan

Judul : Sehari ditinggal Istri, Suami Kewalahan
Kategori : Cerpen
Karya, Istikomah Mu'asyaroh

Sehari ditinggal Istri, Suami Kewalahan


Minggu pagi, aku mengantar istri pulang ke kampung halamannya. Perjalanan ini terbilang mendadak. Setelah mendapat telepon dari ibu, bahwa kakak jatuh sakit, kami pun langsung bergegas.

Istriku menginap di rumah ibu. Sementara, aku harus pulang pada sore harinya. Pekerjaan sudah menanti. Untuk libur pun, sepertinya tidak mungkin.

Ah, malam ini aku sendiri. Kebiasaan bercengkrama tiap malam, tiba-tiba bungkam. Seperti tidak tahu harus berbuat apa. Aku merogoh gawai pada saku.

"Adek!" Pesan aku kirimkan. Dalam keadaan seperti ini, aku jadi mengerti. Istriku sering mengirim pesan beruntun kala aku sibuk bekerja. Tak jarang aku merasa terganggu. Ternyata, kesepian memang memilukan. Ah, istriku, maafkan aku.

"Dalem, Mas. Rindu, ya?" Emot ketawa memperlihatkan deretan gigi, ia kirimkan. Aku jadi semakin rindu.

"Good night, have a nice dream, Dear." Pesan darinya, mengakhiri obrolan panjang kami malam ini.

Pederitaanku belum berakhir. Ketika setiap pagi, selalu ada alarm otomatis yang membangunkan, pagi ini tidak ada lagi. Akhirnya, aku bangun kesiangan, hingga semua serasa berantakan. Salat subuh telat, biasanya ia adalah alarm subuhku.

"Mas, udah adzan. Bangun! Nanti ketinggalan jamaah." Ketika istriku membangunkan, tak jarang aku hanya membalikkan badan, hingga cubitan lembut mendarat di pipi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07:30, aku bergegas mandi. Selesai mandi aku mencari pakaian dinasku. Terakhir, aku mencari kaos kaki, belum juga aku menemukannya. Dimana istriku menyimpan. Aku menoleh jarum jam, waktu terasa cepat bergulir. Sementara, aku masih berkutat dengan pencarianku.

Pandanganku mengitari setiap sudut kamar, betapa berantakan. Handuk dan pakaianku bercecer, selimut belum tertata. Berbeda jika istri di rumah. Semua pasti terlihat rapi. Melihat keadaan ini, fikiranku semakin kacau.

Merasa putus asa, aku mengirim pesan kepada istri.

"Dek, kaos kaki di mana?" Hanya centang satu. Baiklah, mungkin kali ini, aku harus mandiri. Akhirnya kucari kembali. Benda itu, tersimpan di almari paling bawah. Sudah berapa lama aku tidak mencari kebutuhanku sendiri, hingga susunan letak pakaian saja aku tidak paham.

Aku segera berangkat ke kantor, tentunya dalam keadaan perut keroncongan. Biasanya, istriku sudah menyiapkan sarapan sebelum aku berangkat kerja.

Dari keadaan ini, aku berfikir, mengapa istriku bisa secekatan itu. Pagi-pagi sudah membereskan rumah, sarapan sudah tersaji, segala keperluanku sudah ia siapkan. Aku yang hanya mengurus diri sendiri saja, masih kerepotan.

Aku yang tidak biasa datang terlambat, kali ini datang terlambat. Alhasil, urusan kantor serasa berantakan. Seharian mood menjadi buruk.

"Mas, maaf. Baru buka HP. Gimana, ketemu engga?"
"Harusnya aku siapkan dulu kemarin."
"Maaf, Mas." Aku membaca pesan darinya. Terlihat, dia sangat merasa bersalah.

"Udah ketemu. Ga papa, kok, Dek."

"Maaf, Mas," balasnya disertai emot senyum pipi tersipu. Jadi, menambah rasa rindu.

Baru sehari ditinggal istri, hidupku sudah terasa runyam. Ingin segera menjemputnya.

"Dek, besok udah bisa pulang?"

"Udah, Mas. Kakak udah membaik."

Aku memutuskan untuk ijin sehari, demi menjemput istri.

"Mas jemput, Dek."

"Mas, kan, kerja. Besok Adek pulang sendiri aja. Ga papa."

"Udah, Mas yang jemput, ya. Mas nanti ijin."

Aku merenung, beban seorang istri tidak kalah berat dengan beban seorang suami. Mungkin, lebih berat. Sesuatu yang kukira sederhana, hanya mengerjakan pekerjaan rumah. Ternyata, aku sendiri tidak sanggup melakukannya.

Dek, ternyata aku lemah tanpamu.

Labels: