Skip to main content

Suami yang Baik Tidak Malu Membantu Istri Melakukan Pekerjaan Rumah

Suami yang Baik Tidak Malu Membantu Istri Melakukan Pekerjaan Rumah 

Suami yang Baik Tidak Malu Membantu Istri Melakukan Pekerjaan Rumah

"Lho, Mas, mau ngapain?" tanyaku pada suami yang sedang memegang sapu.

"Kalau pegang sapu, berarti mau ngapain, Dek?" jawabnya disertai tawa kecil.

Begitulah suamiku, selalu membantu pekerjaan rumah, saat ia sedang ada waktu senggang. Aku tak pernah menyuruh, dia yang berkeinginan sendiri. Tak ada niat untuk memperbudak. Sepenuhnya aku sadar akan kodratku sebagai seorang istri.

Aku mengerti, seharian sudah bekerja, pasti lelah ia rasakan. Tidak tega jika harus menyuruhnya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah. Tapi, begitulah suamiku, ia tetap dengan pendirian. Katanya, istri itu jantung rumah, jika istri bahagia, seisi rumah serasa surga. Itu sebabnya, ia selalu berusaha memuliakanku.

Pernah suatu hari aku bertanya padanya.

"Mas, kamu ga malu, po?"

"Malu kenapa, Dek?"

"Ini, bantuin pekerjaan istri. Kalau temen-temen Mas tau, gimana?"

"Membantu pekerjaan istri itu, bukan suatu hal yang memalukan. Tapi, memuliakan."

Suami yang Baik Tidak Malu Membantu Istri Melakukan Pekerjaan Rumah


Aku tersenyum mendengar kalimatnya. Dia selalu menekankan bahwa, suami-istri itu harus saling. Saling dalam segala hal. Ia membantu pekerjaan rumah, tak jarang, aku juga menemaninya begadang menyelesaikan pekerjaan kantor.

Ketika suamiku membantu memberesi rumah, itu bukan berarti tugasku beralih padanya, lantas aku bersantai ria. Kami tetap mengerjakan bersama-sama. Sekali lagi, dia hanya membantu, sesuai keinginannya.

Suamiku pernah bercerita, ada salah satu teman kantor yang mengatakan, bahwa, ia adalah suami takut istri. Sungguh, itu adalah tuduhan yang salah. Aku bukanlah istri otoriter, begitu pun dengannya. Seperti yang suami katakan, kami hanya sedang berusaha untuk saling.

"Kok, nyapu, Mas? Istrinya ke mana?" tanya seorang ibu kepada suamiku yang lewat di depan rumah.

Jujur saja, pertanyaan seperti itu kadang menyinggung hati. Mungkin, aku yang terlalu terbawa perasaan. Mereka pasti mengira, aku adalah istri yang tidak bertanggung jawab. Tetapi, suamiku selalu meyakinkan, "Ga papa. Kan, kita harus saling melengkapi, Dek."

Dia memang mandiri. Tapi, ia masih selayaknya suami yang sering kali manja. Dan, aku tak pernah mempermasalahkan itu. Karena aku paham, manjanya adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa hadirku sangat dibutuhkan. Lagi, lagi, kami mencoba untuk saling. Bahkan, dalam hal saling manja ini.

"Dek, bikinin kopi, ya!"

"Lho, perasaan Mas dari dapur, deh."

"Kan, mau kopi buatanmu, Dek." Suamiku terkikik.

Begitulah ia, di balik mandirinya, tetap saja menyimpan manja.

"Dek, kaos kaki di mana?"

"Ada di lemari paling bawah, Mas."

"Ah, engga ada."

Aku menghampiri, tidak perlu waktu lama, aku langsung menemukan benda itu. Kebiasaan suami, susah menemukan barang yang sedang dicarinya. Maka, dalam kondisi seperti itu akulah yang harus bergerak.

"Dek, besok udah bisa pulang belum?" tanyanya saat aku menginap di rumah ibu. Mungkin saat itu, ia sedang merindukanku. Aku pun sama. Kami memang tidak biasa berjauhan.

"Aku lemah tanpamu," ungkapnya. Aku juga begitu. Rasanya hampa jika harus berjauhan dengannya. Begitulah, karena merasa selalu dibutuhkan itu indah.

***
"Udah, Mas!" Aku mengambil alat pel yang ia pegang.

"Kenapa, Dek?"

"Kalau Mas yang beresin semua, nanti Adek ga kebagian surga." Kami terkikik.

Seperti suamiku yang selalu berusaha memuliakanku. Maka, aku pun sama. Aku akan berusaha sepenuh jiwa mengabdi kepadanya.
"Suamiku, terima kasih telah melengkapi hidupku."

Oleh : Istikomah Mu'asyaroh
Comment Policy: Tolong silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar