5 October 2019

Suami yang Baik Tidak Malu Punya Istri Gendut

Judul : Suami yang Baik Tidak Malu Punya Istri Gendut
Kategori : Cerpen
Karya : Istikomah Mu'asyaroh

Suami yang Baik Tidak Malu Punya Istri Gendut


"Mas, Adek mau diet, ya?" Istriku menghampiri. Ia duduk di sampingku. Wajahnya terlihat lesu.

"Kok, diet segala, Dek?"

"Malu, Mas. Temen-temenku seksi-seksi."

"Ga perlulah, Dek. Begini aja Mas udah cinta, kok."

Istriku masih memanyunkan bibir. Dia menceritakan tentang teman-teman komplek yang berhasil kurus dengan program diet khusus. Aku mengerti, itu adalah salah satu kode, agar aku mengizinkannya mengikuti program tersebut. Bukan karena sayang dengan uang yang dikeluarkan, hanya saja aku tidak ingin menyiksa. Karena aku paham, istriku sangat doyan makan.

Aku hanya menanggapi dengan senyuman. Sesekali mengangguk dan mengiyakan penuturannya. Melihatku tidak terlalu menanggapi, ia berlalu menuju kamar.

"Maaf, Dek. Bukan mas ga peka. Mas ga mau kamu diet. Itu karena, Mas sayang Adek." Aku membatin kalimat itu saat istriku beranjak dari kursi.

***
Seperti pagi-pagi sebelumnya, istriku menyiapkan sarapan untuk kami makan bersama. Ia mengambilkan nasi beserta lauk. Sementara, istriku hanya mengambil sayur. Lantas memakannya.

"Dek, maemnya, kok, gitu?"

"Hehehehe, lagi pengen aja, Mas."

Tidak biasa istriku seperti ini. Mungkin, ia sedang menjalankan aksi dietnya.

"Dek, sepiring berdua, yuk!"

"Emmmm ...."

Aku mencoba menggagalkan. Pasti ia ingin menolak ajakanku. Tapi, mungkin sungkan.

Aku mengambil piring yang ada di tangannya. Lantas menggantikan dengan piring yang aku bawa.

"Maem ya, Dek!" Aku menyuapi. Istriku pasrah menerima suapan dariku. Mungkin batinnya, "Gagal diet, nih."

Aku sedikit menyembunyikan tawa. Hingga tak terasa, nasi di dalam piring sudah habis kami makan. "Yeayy ... berhasil," batinku.

"Dek, nanti Mas pulang kerja, minta dibawain apa?"

"Engga deh, Mas."

Tidak seperti biasa. Istriku yang selalu meminta berbagai makanan tanpa perlu aku tawari, kini malah menolak tawaranku. Ah, ternyata keinginannya untuk diet kuat sekali. Padahal, aku tidak pernah mempermasalahkan kegendutannya. Toh, aku rasa gendutnya tidak over.

***
Pulang kerja aku sempatkan mampir di sebuah warung bakso langganan. Tidak lupa, martabak telur kesukaan istriku. Dua kantong plastik sudah berada di tangan.

"Assalamualaikum, Dek."

"Waalaikumsallam." Seperti biasa ia sudah menunggu kepulanganku. diliriknya dua kantong plastik yang aku bawa.

"Bawa apa, Mas?"

"Bakso sama martabak telur."

"Lho, Adek gak pesen."

"Ga papa. Mas beliin buat Adek. Kalau Adek ga mau, nanti Mas makan sendiri. Tenang aja."

Istriku hanya terdiam. Mungkin, fikirannya sedang tidak karuan. Bimbang, antara makan atau tidak.

Dia yang biasa menyerobot makanan, kini terlihat tidak terlalu memperdulikan.

"Dek, ayo maem!"

"Adek belum laper. Mas duluan aja."

Aku menghampiri, sembari membawa satu mangkok bakso.

"Tau ga, Dek? Tadi pas beli ini, antri banget. Ternyata, masih jadi favorit, ya. Adek, mau?" Aku mengulurkan sesendok bakso ke arahnya. Istriku menggeleng.

"Pantes, ya, selalu rame. Enaknya kebangetan begini."

Aku kembali mengulurkan bakso ke arahnya. Pertahanannya mulai goyah, ia membuka mulut perlahan. Akhirnya, kami makan bakso bersama hingga habis.

Setelah bakso, aku membuka bungkus martabak. Istriku memakannya dengan lahap.

"Tak bilangin, to, Dek. Panda aja gendut, tetep lucu, kok." Kami tertawa bersama.

Dek, andai kamu tau, aku mencintai hatimu bukan fisikmu.

Labels: