Skip to main content

KISAH : Ustadz adi hidayat menceritakan perjuangan ayah dan ibunya, Penuh Motivasi dan sedih

Baca Juga

Jika kalian suka membaca kisah-kisah penuh motivasi dan menyedihkan, silahkan kalian simak kisah yang satu ini, yang dimana ustadz adi hidayat menceritakan hidupnya dari perjuangan ayah dan ibunya dalam memberikan dia pendidikan belajar.

KISAH : Ustadz adi hidayat menceritakan perjuangan ayah dan ibunya, Penuh Motivasi dan sedih


Ayahnya ustadz adi hidayat mengajar di sebuah mushola kecil yang kini sudah berubah menjadi masjid, ia selalu di bawak ayahnya untuk menemaninya mengajari murid-murid-nya, tapi si ustadz Adi hidayat terkadang tertidur di dekat ayahnya.

Sekarang berbeda kini ustad adi hidayat yang mengajar, tapi ayahnya sudah tertidur... selamanya.

Terkadang Uah di gendong, hingga menuju kerumah saat selesai mengajari di mushola itu. ustadz adi hidayat pernah berpura-pura tertidur saat ayahnya mengajar, lalu Uah memperhatikan dalam kepura-puraan tidurnya, untuk apa saja yang dilakukan ayahnya.

Ayahnya menjaga betul si uah agar tidak terbangun dari tidurnya. Ketika ia digeletakan ke kasur, ustadz adi hidayat di ajak bercanda ayahnya dengan kebahagiaan.

Kemudian ketika ustadz adi hidayat mau masuk pesantren, ayahnya meminta maaf karna tak bisa menghantarkannya ke pesantren itu karna sakit.

Sebelum meninggal ayah

Saya bertemu, memeluknya dan hingga meneteskan air mata karna ayah minta maaf kepada saya tak bisa menghantarkan saya ke pesantren, saya belum mengerti apa pun saat itu dan saya bertekad insya allah saya (Ustadz adi hidayat) bersungguh dalam belajar.

Sepekan, dua pekan saya mendapatkan panggilan, saya tanya kepada kakak saya?

Dimana ayah?

Beliau tak menjawab

Sampai di bandung, paman ustadz adi hidayat mengatakan, "nampaknya tak akan terkejar sampai sana, mungkin sudah di makamkan".

Saya mengerti, dan paham saat itu, bahwa ayah telah wafat. Saya pulang, saat magrib saya sudah sampai dirumah, mendapatkan posisi ibu di ruangan tengah. Saya mendatangi menahan tangisan, untuk membahagiakan ibu saya tercinta.

Saya datangi, saya peluk dan saya temani dalam tidurnya ibu dan, jadi itulah pertemuan terakhir ayah saya saat itu.

Di mimpi ustadz adi hidayat bertemu ayahnya, mengenakan pakaian rapi dan melambaikan tangan perpisahan kepada nya.

Besoknya saya cari, apa yang ada didalam kamar ayah saya. Allahu akbar, apa yang ustadz adi hidayat pelajari di pesantren ada semua di kitab-kitab-nya didalam kamar ayah ku (Ustadz adi hidayat).

KISAH : Ustadz adi hidayat menceritakan perjuangan ayah dan ibunya, Penuh Motivasi dan sedih

Ustad adi hidayat menangis saat kala itu, lalu kemudian membawa mushaf itu. Sepeninggalan barang-barang Ayahnya ustadz adi hidayat itu, dibagikan semua kepada saudara, teman, sahabat dan orang lain.

Kata ibu ustadz adi hidayat, pakailah jam Sepeninggalan ayah mu ini, saya menjawab simpan lah saja jam itu dulu.

Lalu saya membawa mushaf, dengan mushaf itu, saya duduk di ruangan tengah, mengarah ke kiblat, dan Ustadz adi hidayat memohon kepada allah swt.

"Ya allah saya tak punya kemampuan lagi untuk membahagiakan ayah saya di dunia, tapi mohon jadikan setiap huruf dalam al-qur'an ini ya allah, pahalanya mrngalair kepada ayah saya allah".

Begitu ustadz adi hidayat membacakan al-qur'an , tak berhenti-berhenti lagi, seketika langsung masuk ayat-ayat al-qur'an, surah, artinya, posisnya, nomornya, tak pernah berhenti, masuk-masuk.

Ustadz adi hidayat bertekad ingin membuat yang terbaik, pucaknya saat sekolah. 

"Ya allah saya ingin berbakti kepada ibu saya, kalian tahu apa yang terjadi?
Demi allah saya katakan!
Jika engkau bersabar, ibu saya waktu itu, ada gejala kondisi krisis tahun 1997 pada waktu itu ustad adi hidayat masuk pesantren. Saya diberikan bekal sempurna seperti anak-anak yang ada di pesantren itu.

Rupanya ibu saya sudah banyak tanya kepada anak-anak pesantren, berapa kamu dikasih bekal oleh orang tua mu.

Pokoknya dikasih yang sempurna bekal ustadz adi hidayat tiap bulannya.

Satu kali libur dari pesantren kemudian saya pulang ke rumah, ibu saya tersenyum melihat saya pulang sembari menjemuri pakaiannya, Melihatlah ustadz adi hidayat pakaian yang dijemur ibunya, kok pakaian ibu saya tak layak pakai?

Setelah itu, Kemudian Saya (Ustadz adi hidayat) berlari masuk ke dalam kamar ibu, melihat ke lemari baju, saya tidak temukan.

Saya temui kakak saya, yang dimana kakak saya sedang menyiapkan makanan untuk kami, lalu saya bertanya. Kemana pakaian dan perhiasan ibu kita?

Kakak menjawab : " Ibu telah menjual semua perhiasan dan pakaiannya untuk pendidikan kita belajar ". Sembari menangis kakak kedua dari ustadz adi hidayat.

Dan bertahan 150 ribu perbulan pada tahun 1997, yang dimana hanya makan nasi satu kali saja dalam sehari, ibu saya pergi mengajar pagi makan pisang dan kopi, malamnya baru makan nasi. 

"Ya allah, saya akan ganti pakaian ibu saya dengan kain ihram, saya gandeng tangannya di masjidil haram". Ujar doa ustadz adi hidayat dalam kondisi itu. 

Selanjutnya kalian tahu apa yang terjadi?? 

Ketika waktu saya kuliah di libya, Allahamdulillah saya berangkat, saya mulai mengajar, saya serius mengajar, saat itu allah memberikan jalan karna saya benar sungguh-sunguh.

Malam saya bangun, sholat, belajar, menghapal al-qur'an, belajar riwayat al-qur'an.

Sampai puncaknya tiba, ustadz adi hidayat di tugaskan oleh pemerintah indonesia untuk menjadi petugas haji. Saya telpon ibu, dengan mengatakan "Ibu Insyallah saya akan haji tahun 2010".


Terbayang, senyum indah ibu saya pada saat itu.
Allahamdulillah nak, kapan berangkat?
Saya bilang, 2010, saya tak akan berangkat haji kecuali dengan ibu saya.

Terdengar nada pesimis, tapi senyum. "Dari mana kamu bisa berangkatkan ibu naik haji?

"Allah swt akan kasih kepada saya (Ustadz adi hidayat), sebab saya sedang berusaha karna allah mustahil nggak di kabulkan allah".


25 juta uang di butuhkan oleh ustadz adi hidayat untuk pergi haji bersama ibunya, bulan juli harus ada uangnya untuk di setorkan.

Ustadz adi hidayat menabung uang untuk memberangkatkan ibunya pergi haji, niat banget pokoknya.

Dikala mengajar mendapatkan rezeki uang, ditabungkan uang tersebut ke celengan yang sudah disiapkan ustadz adi hidayat.

Tepat sepekan saat itu, sebelum menyetorkan uang untuk pergi haji, dibuka nyalah celengan tersebut dan ternyata Allahamdulillah uang tersebut banyak dan terkumpul 1 juta, kurang 24 juta lagi.

Tapi 3 hari sebelum daftar, ada saja rezeki dari allah swt, datanglah ibu-ibu kbri datang, ntah tahu dari mana, langsung bertanya ustadz, ibunya katanya mau pergi haji yah?
Sudah tak usah dipikirin yah, biarkan kami saja yang mengurusnya.

Tiba-tiba dikirim uang untuk pendaftaran haji, koper juga sudah disiapkan yang ukuran besar, tapi sebelum ada, ibunya menelpon ustadz adi hidayat, nak kopernya belun datang, apa haji nya ini tidak jelas?

Ustadz menjawab: Insyallah ada bu, tenang saja, nggak buk, Insyallah jelas.

Nah ceritanya itu berbeda lagi saat saya telpon lagi, ibu bagaimana apa bisa?

Nak telah keluar pengumuman nya bahwa ibu pergi haji tahun 2013, yang dimana intinya pada sesaat itu tak bisa pergi haji bareng ustadz adi hidayat.

"Tidak bisa saya pergi haji, kan saya pergi haji tahun 2010, ingat!  kata-kata dari ibunda ustadz adi hidayat. "Anak ku jangan sampai engkau memakan/mengambil hak orang lain"

"Ibu, kita tidak harus mengambil hak orang lain, tapi kita meminta kepada allah yang memanggil kita, bisa jadi di tambah lagi kuota haji di indonesia".

Berdoa lagi terus semangat.

Tiba-tiba ada sidang di istanbul turki untuk keputusan penambahan kuota haji, setiap 1 ribu muslim di tambah lagi kuota hajinya setiap negara.

Saat itu indonesia mendapatkan penambahan kuota haji sebanyak 22 ribu tahun 2010 yang mana termasuk ada ibu tercintanya ustadz adi hidayat.

Sebelum itu, ustadz adi hidayat ada acara di istanbul turki menjadi mc yang dimana ia tak biasanya membawa handphone, tiba-tiba ada telpon masuk berbunyi dari saku celananya, ustadz adi hidayat lalu meminta izin untuk mengakat telpon tersebut. Kemudian terdengar ada suara menangis bahagia dari suara telpon itu, "Nak Allahamdulillah ibu bisa haji".



"Hanya 5 bulan, tak mengeluarkan dana apa pun untuk pergi haji ustadz adi hidayat dan ibunya".
Ketika ustadz adi hidayat berangkat duluan, ditungguin betul ibunya di apartemen, ketika sudah sampai, ustadz adi hidayat tidak langsung menyapa, saya lihat dari jauh. Bahagianya saya bisa mengganti pakaian ibu saya dengan kain ihram.

Saya perhatikan, saya ikutin dari belakang, di lift saya ikutin, di jalan saya ikutin. Ketika sampai di masjidil haram, saya gandeng tangan ibu saya, "Ibu kita sama-sama".
Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika la syarika laka labbaik, Inna al hamda wa an ni’mata laka wa al mulka la syarika laka.

Saya tawaf, saya gandeng tangan ibu saya dengan tangan kanan, saya lindungi agar mendapatkan kenikmatan dalam ibadah, begitu saya rasakan bagaimana sayyidiina hajar berkeja keras untuk ismail, saya balas di situ, saya gandeng tangan kanannya, "Saya minta kepada allah swt, ya allah muliakanlah ibu saya, muliakanlah, muliakanlah ibu tercinta saya berikan kesempatan membahagiakan ibu saya".

Cuman yang kanan di gandeng, yang kiri kosong, karna sudah tidak ada (ayah). 

Kesimpulan 

KISAH : Ustadz adi hidayat menceritakan perjuangan ayah dan ibunya, Penuh Motivasi dan sedih
Sumber image : Internet/instagram

Ingat! Ketika anda ingin belajar menjadi ulama, ALLAH Swt akan muliakan hidup anda, orang tua anda pun mendapatkan bagian kenikmatan nya.

Fakta : Yang menghapal al-qur'an itu musa, tapi yang bisa pergi haji, ayah dan ibunya.

Jadi yang ingin menjadi ulama itu, jangankan sudah jadi, kalau benar caranya allah swt akan menjaga, walau baru bergerak sekali pun. "ingat kalau benar caranya".

Menjadi ulama itu adalah tingkat tertinggi bagian orang sholeh.

So, kalau bisa di dalam keluarga anda harus ada satu menjadi ulama, hafisz al-quran, ustadz, walau ada yang pandai kaya di dunia haruslah dijalankan ke jalan allah swt seperti bersedekah, dan membantu banyak orang-orang yang membutuhkan.

Tak terasa sudah berakhir dari kisah dan kesimpulan ini, terima kasih sudah membaca, semoga kita mendapatkan manfaat dari artikel ini yang membahas kisah perjuangan dari ayah dan ibunya ustadz adi hidayat lc.. ma.

Yang ingin mencurahkan tentang perjuangan orang tuanya, silahkan komentar di blog ini dan jangan lupa bagikan.
Comment Policy: Tolong silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar